Pages

Senin, 05 Agustus 2013

Mengapa Malu Jadi Petani ? Ironi di Negeri "Yang Katanya" Agraris

Suasana Lahan Ketika Terik Matahari Memanggang Kepala
     Teriknya matahari tadi siang membuat kegiatan "nyawah" saya jadi agak berantakan. Niat hati ingin mengontrol tanaman cabai di lahan jadi meleleh oleh panggangan sinar matahari siang. Tak kuat menahan capek, aku menepi sejenak menuju gubuk sederhana buatan warga di pematang ladang. Disana sudah ada beberapa petani cabai yang beristirahat melepas lelah usai memupuk tanaman cabainya. "Sini istirahat dulu mas Dito, "wong" panas begini kok masih "uthek"(bahasa jawa untuk giat) saja, dibiarin saja cabainya ya tetep jadi uang kok ( saat ini harga cabai di ladang mencapai Rp 50.000,-/kg)", ujar Haji Nurhasim, seorang petani "pemain lama" cabai di desaku. Perlahan kuamini saja ajakan beliau untuk bercengkrama bersama di tengah terik matahari yang membakar ubun itu.
       Dari obrolan singkat itu, ternyata aku ketahui Haji Nurhasim hendak menjual 3/4 bagian lahan sawahnya yang kutaksir berjumlah sekitar 8 ha. "Kok dijual pak haji, apa ndak sayang ?", ujarku. Beliau berkata, " Badan sudah tua mas, ndak ada yang mau meneruskan, anak-anak saya sudah tidak mau ngurusi sawah, malu katanya wong lulus kuliah kok tetap saja jadi petani." Aku hanya tertawa kecil mendengar penuturan beliau. Oh, rupanya anak sekarang sudah malu jadi petani, ujarku dalam hati. Sejenak aku melamun sambil memikirkan betapa ironinya pekerjaan petani itu. Hinakah jadi petani, apakah jadi petani tidak bisa punya harta melimpah ? Padahal Sejak zaman dahulu kala Indonesia dikenal dengan Zamrud Katulistiwa, daerah dengan tanah nan subur. 
Potret Petani Tradisional yang Membuat Alergi Jadi Petani
Bahkan group Koes Plus sampai mengungkapkan kesuburan lahan Indonesia dalam penggalan salah satu lagunya, "Kayu ditancap pun bisa berubah menjadi pohon". Hal ini semakin menguatkan eksistensi negara kita sebagai negara agraris didukung dengan kualitas lahan nomor satu dan iklim yang memadai sehingga dapat menghasilkan produksi pertanian dengan kualitas baik. 
Ini Baru Namanya Petani
      Dahulu orang bangga dengan profesinya sebagai petani karena dia merasa memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas kehidupan manusia. Namun apa realita yang terjadi sekarang sungguh sangat memprihatinkan. Berdasarkan pengamatan saya terhadap realita sekarang, mayoritas petani yang berumur tua tidak mau dan malu mewariskan profesi sebagai petani kepada anak-anaknya. Sektor pertanian dianggap tidak menjanjikan bila dijadikan sebagai mata pencaharian. Menurut hemat saya hal ini tidak sepenuhnya benar, jika memang realita yang terjadi demikian lantas mengapa para perusahaan asing berlomba-lomba membuka lahan pekerjaan untuk bermain di sektor pertanian? Ada sebuah jargon menarik dalam dunia militer yang saya pernah dengar, "Perbekalan tidak akan pernah memenangkan pertempuran, namun pertempuran tidak akan pernah dapat dimenangkan tanpa perbekalan", apabila kita analogikan corps militer sebagai negara ini dan perbekalan sebagai pertaniannya, otomatis kita harus mempunyai banyak "perbekalan" dalam menghadapi kompetisi global. Memang sejauh ini "nilai jual" yang dapat dimanfaatkan dan menjadi trade mark Indonesia hanya sebatas ekspor raw material. Namun justru raw material inilah yang bisa menjadi modal dasar dalam mengembangkan sektor-sektor lainnya seperti industri,dll. 
Sosok Petani Yang "Keren"
      Kualitas SDM Indonesia dalam sudut pandang yang obyektif oleh pihak independen kualitasnya masih tergolong rendah untuk hanya skala Asia Tenggara pun, jangan-jangan kita sebagai insan pertanian turut memberi kontribusi terjadinya kondisi ini dengan penggunaan bahan kimia berlebihan jangka panjang. Kalau kita mengetahuinya sejak dini, mengapa masih dipertahankan, bahkan volumenya terus meningkat. Bukankah lebih bijak bila pemakaiannya berimbang melalui penegasan regulasi dengan bahan-bahan organik hayati agar pertanian tersebut lestari, sehat, dan terserap pasar bebas? Bukankah kita memiliki target Pertanian Go Organik? Masih kompleks permasalahan pertanian strategis yang tidak perlu diurai satu per satu tapi kita pasti tahu itu. Mungkin tidaklah salah jika komandan dan para perwiranya harus berpikir lebih ekstra membuat penelitian dan pengkajian lebih mendalam guna membuat rencana langkah nyata yang bersifat antisipasi, strategis, efisien dan efektif.  Orang besar yang bijak berpesan “Masalah harus dijemput dan diselesaikan bukan untuk dihindari”. Filosofi budaya Jawa kuno berpesan Sejatinya hidup bukan sekedar hidup tapi harus dihidup-hidupkan agar makna hidup terjabarkan sebagaimana mestinya idealnya hidup. Bukankah tumbuh kembangnya pertanian bagai proses kehidupan juga…?” Bukankah butuh sentuhan yang membumi bagi petani?
Jika Petani Sekarang Sudah "Melek" Teknologi Kenapa Masih Malu Jadi Petani
     Ah..mungkin ini hanya persepsi yang muncul dari gagasanku seorang, biarlah aku jadi petani saja dengan pekerjaan sampingan sebagai wirausaha. Atau mungkin persepsiku ini keliru, mungkin anak sekarang sudah mempunyai pandangan lain tentang menjadi petani..?? Nasib siapa yang tahu, jalani saja apa yang ada dahulu.